Makna Muharram dan Keutamaan Puasa Asyura

Posted on

Makna Muharram dan Keutamaan Puasa Asyura

Makna Muharram

Dalam Islam ada empat bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Di bulan-bulan ini umat manusia dihimbau untuk tidak melaksanakan pertumpahan darah dan bagi umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan taqarrub ilallah.

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.“ (QS. At Taubah : 36)

Menurut Syekh KH. Abdul Gaos Saefulloh Maslul dalam kitabnya “Fadlaailusy Syuhur”, bahwa kalimat Muharram itu terdiri dari 4 (empat) huruf :

1.  Mim, diberi makna “Mujahadatun Nafs”. Artinya memerangi hawa nafsu.

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan” (QS. Yusuf : 53). Tak bisa dimungkiri, perang melawan hawa nafsu atau mujahadatun nafsi memang sangat susah untuk kita lakukan. Andai nafsu itu berwujud mahluk, maka sudah pasti mudahlah bagi kita untuk membunuhnya.

Tetapi nafsu itu justru ada di dalam diri kita, mengalir bersama darah dan menguasai seluruh tubuh kita. Karena itu, jika tanpa kesadaran dan kemauan yang keras, maka kita pasti akan dikalahkannya dan kemudian diperalat sang nafsu dengan sekehendaknya.

Andai kita tak bisa mengendalikan sang nafsu, maka dia akan menjelma menjadi sebentuk kekuatan yang lebih jahat dari setan, mengapa? sebab setan laknatullah tidak dapat mempengaruhi seseorang kalau tidak meniti diatas jalan sang nafsu. dengan kata lain, nafsu dapat diibaratkan sebagai “highway” atau jalan bebas hambatan untuk setan. kalau nafsu dibiarkan membesar dalam diri kita, maka semakin luaslah jalan tol setan itu. sebaliknya, kalau nafsu dapat perangi, maka tertutuplah jalan setan untuk mempengaruhi jiwa kita.

2.  Ha, diberi makna “Hifdzul Hurmah”. Artinya menjaga kehormatan.

“Man hafidza hurmatallahi, hafidzallahu hurmatahu”, siapa yang menjaga kehormatan (agama) Allah, maka Allah akan menjaga kehormatan dirinya.

3.  Ra, diberi makna “ridhallah”. Artinya ridha Allah.

Menurut istilah, ridha berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi menjadi dua macam, yaitu :

  • Ridha hamba terhadap hukum Allah. Orang yang ridha terhadap hukum Allah akan senantiasa menjalankan perintah Allah dengan ikhlas, selalu bersyukur dan menjauhi segala yang dibenci Allah SWT.
  • Ridha Allah terhadap hambaNya. Jika Allah meridhai hambaNya, Ia akan memberikan tambahan kenikmatan, pahala dan meninggikan derajat hambaNya tersebut.

Ridha merupakan anugerah kebaikan yang diberikan Tuhan atas hambaNya daripada usahanya yang maksimal dalam pengabdian dan munajat. Ridha juga merupakan manifestasi amal shaleh sehingga memperoleh pahala daripada kebaikannya tersebut.

“Dan keridhaan Allah adalah lebih besar.” (QS. At-Taubah :72)

”Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah : 8).

4.  Mim, diberi makna “Mahabbatillah”. Artinya mencintai Allah.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku umumkan peperangan terhadapnya. Tidak ada ibadah yang paling Aku cinta dari seorang hamba kecuali ibadah yang telah Aku wajibkan kepadanya. Seorang hamba yang selalu beribadah kepadaku dengan perkara-perkara sunah, niscaya Aku akan mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengaran yang dengannya dia mendengar, Aku adalah penglihatan yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia memukul, kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan. Jika dia mohon perlindungan kepadaku, niscaya akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Keutamaan Puasa Asyura

Rasulullah SAW menganjurkan kepada umat Islam untuk melaksanakan puasa sunnah Asyura, yaitu puasa pada tanggal 10 Muharram ditambah dengan puasa sehari sebelumnya atau sesudahnya.

Puasa sehari sebelumnya dinamakan Tasu’a, berasal dari kata tis’ah yang artinya sembilan. Karena puasa itu dilakukan pada tanggal 9 bulan Muharram.

“Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata : ketika Rasulullah SAW tiba di kota Madinah dan melihat orang-orang Yahudi sedang melaksanakan puasa Asyura, beliau pun bertanya? Mereka menjawab, “Ini hari baik, hari di mana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka lalu Musa puasa pada hari itu.” Maka Rasulullah SAW menjawab, “Aku lebih berhak terhadap Musa dari kalian”, maka beliau puasa pada hari itu dan memerintahkan untuk melaksanakan puasa tersebut” (HR. Bukhari )

“Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: pada saat Rasulullah SAW melaksanakan puasa Asyura dan memerintah para sahabat untuk melaksanakannnya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah hari tersebut (Asyura) adalah hari yang diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Insya Allah jika sampai tahun yang akan datang aku akan puasa pada hari kesembilannya”. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah SAW meninggal sebelum sampai tahun berikutnya” (HR. Muslim)

Fadhilah puasa Asyura, menurut Abu Qotadah bahwa Rasulullah bersabda: “Puasa Arafah menghapus dosa dua tahun, sedangkan puasa Asyura menghapus dosa satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim).

Imam Nawawi pernah menjelaskan tentang hadits tersebut, beliau berkata : “Yang dimaksud dengan kaffarat (penebus) dosa adalah dosa-dosa kecil, akan tetapi jika orang tersebut tidak memiliki dosa-dosa kecil diharapkan dengan puasa tersebut dosa-dosa besarnya diringankan, dan jika ia pun tidak memiliki dosa-dosa besar, Allah akan mengangkat derajat orang tersebut di sisi-Nya.”

Demikianlah beberapa Makna Muharram dan Keutamaan Puasa Asyura, semoga bermanfaat.

3 thoughts on “Makna Muharram dan Keutamaan Puasa Asyura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *